Sudah. Saya sudah menikah. Minggu, 29 Juni lalu, saya ikrarkan janji pernikahan saya di sebuah gereja bersejarah di Surakarta, Gereja St Antonius. Seorang perempuan, yang sudah saya kenal sekira sejak sedekade lalu, sejak itu, menjadi istri saya. Yustina Novi Kurniati, nama istri saya. Seumur hidup, demikian kami berjanji.
Sederhana. Sebagaimana hidup keseharian kami, pernikahan kami juga berlangsung sederhana. Hanya dihadiri keluarga inti, kerabat dekat, dan beberapa sahabat karib, kami menyatukan diri dalam satu ikatan suci. Dua pribadi menyatu, dan tetap dua, membangun keluarga bahagia.
Satu pastor, Y Eka Heru M, SJ, mempersembahkan perayaan ekaristi itu. Pastor-pastor lain, sahabat-sahabat kami, duduk menyebar, turut menjadi saksi. Tidak ada konselebrasi. Pemimpin ekaristi satu saja: Allah sendiri.
“Akhirnya, kami menikah…,” demikian ucapan pertama kami ketika didaulat menyampaikan ucapan terima kasih di penghujung misa. Untuk para sahabat yang mengenal kami, pernyataan itu sungguh bermakna dalam. Meski spontan mereka tergelegak dalam tawa, namun sejatinya mereka hendak menegaskan pernyataan kami. Kami tahu maksud tawa mereka. Tawa itu simpulan dari cinta mereka sejak kami, saya dan istri saya, mulai mengenal dan tidak ada rasa apa pun, mengenal dan kami berpacaran dengan pasangan masing-masing, hingga mengenal dan memutuskan untuk menikah. Tawa mereka doa yang tak cukup didaraskan.
Pernikahan kami adalah cinta keluarga dan sahabat. Bagaimana tidak. Dengan nyaris tanpa punya apa-apa, semua akhirnya terselenggara begitu meriah. Seorang sahabat, Mas Yong, yang sudah berkeluarga belasan tahun, mau sharing saat jatah pastor homili. Pengalaman nyata mereka hadirkan di altar. Sahabat lain, Mas Lukas, menjadi saksi bersama Mas Suka, sahabat dan kerabat. Eva, Gemak, Lusi, Anita, dan Wiwit, adalah pandega utama perhelatan ini. Dari Jogja untuk acara di Solo. Dari sela kesibukan mereka untuk sekali seumur hidup kami. Dari cinta mereka.
Koor? Semula kami hendak pakai koor seadanya, yang penting “bunyi”. Tapi batal. Satu per satu sahabat kami mengajukan diri menyanyi di gereja. Solis. Karena banyak, ganti kami meminta mereka untuk jadi koor saja sekalian. Dan mereka mau! Wow, koor kami adalah gabungan penyanyi, dari level lokal hingga internasional: Pak Frans, Pak Theo Sunu Widodo (yang secara khusus menciptakan 2 buah lagu untuk kami), Pak Parjo, Bu Wahyu, Bu Evy, Lisa, Wawan, Clara, Olga, Keke, Gita, Daniel, Kristiawan “Gereh”, dan Lia. Megah nian… Bro, suwun ya…
Deni, Lukas, Dika, calon fotografer dunia dari APC, juga menyediakan mata elang mereka dalam membidik mangsa yang eksotik di pahargyan kemarin. Dab, thanks!
Jadilah, pernikahan kami OK banget! Ya, 29 Juni 2008 pukul 11.00 WIB adalah pernikahan OK.
11 July, 2008 at 2:12 am
Selamat ya Om, btw gimana bulan madunya succes kan. asyik ya sekarang sudah ada yang temenin tidur, he..he…..
29 July, 2008 at 3:54 pm
Selamat!
Sidane karo sopo tho, Kun ?
7 August, 2008 at 12:15 pm
Selamat selamat selamat!
16 August, 2008 at 4:22 pm
Selamat Kun…
Melu seneng…
*temen kuliahmu sejurusan*
27 August, 2008 at 4:26 am
Ehm …. siapakah perempuan yang menjadi pelabuhan terakhir itu.
SELAMAT …. semoga janji yang diucapkan selama dua menit mampu bertahan selama 40 tahun kedepan.
SELAMAT ya mas …
3 September, 2008 at 5:04 am
Lurs,
Terima kasih. Perjalanan baru dimulai. Dengan semangat. Dengan suka cita. Dengan pengharapan besar akan kebahagiaan.
10 November, 2008 at 3:04 pm
Selamat Kun… ternyata kamu bisa juga.